Oleh RIRIN MASHURIYAH, S.Pd.

Pembina Pendidikan Bidang ke-TK-an

RA. Anak Shaleh Suwayuwo Sukorejo Pasuruan

 

Di tengah meriahkan sambutan terhadap Hari Anak Sedunia,

pada kenyataanya yang lebih banyak muncul adalah sosok anak nakal.

 Di mana anak-anak shaleh ‘bersembunyi’?

Anak shaleh adalah kekayaan yang sangat mahal. Mungkin karena saking mahalnya sehingga data yang mengungkapkan tentang anak yang shaleh begitu sulit terungkapkan. Anak shaleh nampaknya seperti misteri, keberadaannya ada, tapi mereka seperti sesuatu yang tidak ada.

Hal ini disebabkan, yang lebih banyak terdengar dan menghiasi lembaran informasi dunia justru aktivitas anak-anak nakal. Sekalipun mereka sering mengatasnamakan sebagai ABG atau remaja, bagaimanapun mereka adalah anak juga bagi orang tuanya, yang belum selayaknya melakukan tindakan-tindakan kriminal. Mereka itu bukan anak shaleh tapi ‘anak salah’ yang kian hari kian mengkhawatirkan. Terlepas dari kesalahan orang tua ataupun kesalahan anak sendiri, pemberitaan tentang anak-anak salah ini selayaknya telah cukup menyadarkan kita semua, bahwa memang sudah perlu adanya tindakan besar-besaran di kalangan orang tua dan pendidik. Bagaimanapun mereka adalah calon orang tua di masa mendatang. Bagaimanakah nasib masyarakat, bila nantinya lebih didominasi oleh orang-orang yang tidak kenal aturan?

Kita juga bisa membayangkan, betapa bahagianya orang tua yang memiliki anak-anak yang baik, yang penurut dan mau mendengarkan nasihat. Setidaknya menurut istilah agama adalah qurrata a’yun, menyedapkan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Menjadikan orang tua bangga, sekaligus memberikan jaminan kepada mereka bahwa anak-anaknya nantinya tidak akan menjadi beban masyarakat, melainkan justru menjadi kekayaan dan sumber hidayah.

BERPIKIRAN JERNIH

Anak-anak shaleh tetap berpikir jernih di saat yang lain dipenuhi pemikiran yang sarat dengan kepentingan-kepentingan. Kejernihan pikirannya karena adanya filter dalam diri. Mereka menempa dirinya dengan bentangan luas samudera al-Qur’an. Qur’an dan kandungan wahyu di dalamnya menjadi nafasnya. Mereka menyelami kedalaman wahyu itu dengan rasa yang haus. Dengan penuh rasa haus pula mereka menangguk nasihat-nasihat wahyu Ilahi tersebut.

Yang membuat sepi hatinya adalah ketika mereka merasakan mulai ada jarak dengan Qur’an. Makin jauh jarak itu akan dirasakan sebagai sesuatu yang kering dan menyakitkan, menyayat-nyayat dan menusuk-nusuk batin. Mereka menangis dan menjerit bukan karena kehilangan harta benda, juga bukan karena ada luka pada anggota fisiknya. Tapi tangisan dan jeritannya lebih terdorong oleh adanya rasa kehilangan dalam dirinya, rasa sesal terlepas dari ikatan ruhaninya.

Pada anak-anak demikian, tidak sampai rasa iri yang muncul hingga mempengaruhi tindak lakunya. Tapi kesemuanya itu dapat dikendalikan, sehingga rasa hasud, dengki, cemburu, tidak dibiarkan meletup menjadi tingkah laku yang dapat mengurangi keharmonisan dan persahabatan. Mereka telah mengasah dirinya dengan bimbingan ketuhanan sehingga dapat mengontrol dengan baik segenap sikapnya.

BERHATI BERSIH

Ketika sebagian manusia sedang asyik berdansa dan menari-nari dalam dunia kemaksiatan, anak-anak shaleh dengan tekun dan penuh khidmat membuka lembaran demi lembaran wahyu di majlis-majlis dzikir. Mereka mengkaji dan berdiskusi tentang nikmat Allah dan sunnatullah di mana saja. Lingkaran aktivitas mereka tak lepas dari masjid, di manapun masjid itu berada. Hal ini akan menambah kontrol sosial baginya, yang semakin menjauhkannya dari lingkungan yang penuh dan membawa maksiat.

Pikirannya menjangkau dunia dan mengetahui apa yang terjadi di kanan kirinya, tapi mereka tidak larut dalam kehidupan dunia yang penuh tipuan ini. Tidak terjebak pada permainan-permainan yang merusak dan membuatnya jatuh tergelincir.

Mereka memiliki rem pengendali. Ketika sedang di ladang, di pasar, di kantor, di hotel dan di manapun jua di tempat-tempat yang sepi ataupun ramai mereka tidak mudah lepas dari ikatan aqidah dan keimanannya. Mereka tidak mau menjual permata keyakinannya dengan sesuatu yang bernilai rendah. Mereka memiliki harga diri, dan dapat mempertahankannya dengan kuat.

Mereka memahami dengan benar apa yang disampaikan Tuhannya. Ayat-ayat yang telah diturunkanNya telah diterima sebagai kebenaran, bukan sesuatu yang bernilai berita semata.

Mereka meyakini bahwasannya kebenaran-kebenaran itu semestinya ditegakkan, termasuk oleh dirinya sendiri. Ayat berikut ini menjadi tadabbur untuk selalu dapat berhati-hati dalam hidupnya:

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Kahfi: 45)

Ketika sebagian manusia bersikap tak acuh terhadap kedua orang tuanya, mereka para anak shaleh justru sangat menjunjung tinggi orang tua mereka. Saat tindakan kotor mendapatkan kehalalan oleh manusia, mereka dikaruniai akhlak yang tinggi oleh Allah dengan perangkat kemampuan selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat.

Sesungguhnya Kami telah mencucikan mereka (dengan menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manausia) kepada negeri akhirat.” (QS Shaad: 46)

Mereka menyadari dengan sepunuh hati, bahwa segala tingkah laku ada pertanggungjawabannya. Dan pertanggungjawaban yang paling tidak bisa dimanipulasi adalah pertanggungjawaban di Pengadilan Tuhan kelak, ketika manusia diperhadapkan di hadapan Sang Hakim Agung Allah swt.

BERTINDAK ASIH

Karena kegemarannya kepada kebaikan, ia sangat senang melakukan amalan-amalan yang mengundang kesejukan. Kepada teman, kawan dan lingkungan yang ditonjolkannya bukan sifat arogan tapi sifat ruhama-nya, sifat kasih sayang dan penyantunnya. Sifat-sifat seperti itu yang menghiasi dirinya. Tingkah lakunya tidak memperturutkan kehendak di luar hatinya, tapi selalu melalui konfirmasi lebih dahulu dengan kata hati itu. Sikapnya sama sekali bukan untuk menari pujian dari orang lain. Semata-mata untuk menegakkan kebenaran yang telah bersarang dalam lubuk hatinya. Ia ingin sekali menjabarkan lembaran-lembaran al-Haq yang telah bersemayam itu, supaya juga dirasakan oleh segenap manusia. Sebab baginya, dengan melakukan amalan-amalan seperti itu kenikmatan-kenikmatan telah diperolehnya. Dan itu, jauh dari sekedar bentuk pujian dan sanjungan-sanjungan. Satu sunnah yang dijalankan, ada terasa satu derajat yang dinaikkan. Satu ayat diamalkan, kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya semakin berlipat-lipat. Karena tingkah lakunya yang serba asih ini, masyarakat merasakan benar kesejukan keberadaannya.

ORANG PILIHAN

Orang shaleh adalah orang-orang pilihan. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim: “Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad: 47)

Disebut orang pilihan, karena mereka telah lolos sensor dalam suatu pemilihan maha akbar yang diselenggarakan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka telah ‘berhasil’ memenangkan pertandingan yang digelar untuk seluruh ummat manusia. Mereka mampu melewati berbagai ujian yang berkelok dan rumit. Hasil dari ujian itu tumbuh sifat-sifat mulia yang merupakan syarat-syarat kekhalifahan berupa akhlaqul-karimah, aqidah yang tertanam baik lagi kokoh, sifat kasih sayang yang menonjol, dan budi pekerti yang mulia. Mereka dengan karakter yang semacam itu, menjadi penyeimbang kehidupan. Keberadaan mereka menjadi semacam ‘jaminan’ bahwa saat kiamat masih jauh.

Dunia merindukan mereka tampil melindunginya, menjaganya dari kebinasaan. Dunia yang dipimpin olah orang yang nakal adalah dunia yang rusak. Dunia yang dikendalikan oleh orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya adalah dunia yang kacau-balau, dunia yang tidak pernah tenang oleh hingar-bingar dan permusuhann.

Karena rindunya terhadap orang-orang yang shaleh ini, yang mulia Nabiyullah Yusuf as, di puncak kekuasaaanya sebagai Perdana Menteri Mesir memohon ke hadirat Tuhan, kiranya untuk digabungkan ke dalam kelompok hamba-hamba yang shaleh:

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagaian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku ke dalam (kelompok) orang-orang yang shaleh.” (QS Yusuf: 101)

Anak yang shaleh adalah kekayaan yang mahal. Merekalah bakal-bakal manusia shaleh setelah dewasa. Semoga sikap istiqamah kita dalam beribadah mendorong kita menuju ke arah sana. Masuk ke dalam kelompok ‘ibadihish-shalihiin, hamba-hamba-Nya yang shaleh.

http://www.unri.ac.id/web-site/ukm-islam/artikel/dunia_merindukan_anak_shaleh.htm


abi-16.jpg

Oleh: MOCH. NACHWAN

Konsultan Bidang Pendidikan

RA. Anak Shaleh

 “The Golden Age” atau “Usia Masa Emas” seorang manusia ketika ia berumur 0 – 6 tahun berdasarkan UU Sisdiknas Tahun 2003 atau 0 – 8 tahun berdasarkan dunia internasional. Sungguh masa penting ini tidak dapat tergantikan lagi apabila sudah terlewati, karena masa ini disebut dengan masa mempersiapkan segenap potensi fisik, akal maupun mental yang ada pada seorang manusia dengan sebaik-baiknya dan menghargai setiap keunikan per individu dari setiap insan. 

PENDAHULUAN

Tahun 2005 UNESCO mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terendah di ASEAN, baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86% dan Malaysia (89%). Dan kesemunya ini semakin tampak dengan Human Development Index (HDI) Indonesia yang juga lebih rendah diantara negara-negara tersebut. Ini membuktikan bahwa pembangunan PAUD berbanding lurus dengan mutu dari sebuah negara yang terdiskripsikan dalam HDI.

Sedangkan Depdiknas dalam buku Pembangunan Pendidikan Nasional tahun 2007 menggambarkan bahwa Pemerintah telah berhasil meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD yang awalnya pada tahun 2004 adalah 39,09% maka pada tahun 2006 sudah mencapai 45,63% dengan target capaian pada tahun 2007 sebesar 48,07%, sudah barang tentu ini merupakan sebuah hal yang menggembirakan bagi pengembangan pendidikan anak usia dini.  Kemudian disebutkan bahwa agenda-agenda yang akan dicapai pada tahun 2009 seperti pencapaian APK PAUD usia 2 – 6 tahun sebesar Akan tetapi perlu dikritisi untuk pencapaian 53,90% atau sekitar 10,05 juta orang kualitas dari layanan yang diberikan, bukan kepada kuantitas. Ini menjadi amat penting karena begitu dasarnya PAUD itu bagi seorang manusia dalam kehidupannya yang akan datang.

Pemerintah pada tahun 2001 telah mendirikan Direktorat khusus bagi PAUD yaitu Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia dibawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (sekarang disebut Ditjen PNFI), Direktorat yang bertugas untuk melayani PAUD pada jalur pendidikan nonformal dan informal. Ini disebabkan karena sebelumnya untuk layanan yang diberikan kepada anak usia dini baru pada usia 4 – 6 tahun melalui pendidikan formal yaitu TK, sedangkan melalui jalur pendidikan nonformal dan informal msih belum ada. Pendidikan formal pada tahun 2000 hanya mampu menyerap 12,65% dari total usia tersebut dengan Guru TK hanya sebanyak 95.000 orang untuk memberikan pelayanan 1,6 juta anak usia dini. Sedangkan untuk sisa 0 – 4 tahun masih belum terlayani, oleh karena itu maka Pemerintah berinisiatif untuk mendirikan Direktorat PADU (saat ini disebut Dit. PAUD) yang bertugas untuk melayani anak usian dini yang berumur 0 – 4 tahun.

Perlu diingat, setiap anak itu mempunyai potensi yang unik ketika ia lahir di muka bumi ini,  baik secara fisik (jasmani) maupun non fisik (akal, hati dan lain sebagainya), dan  dari itu semua sesungguhnya kuncinya ketika anak tersebut berumur 0 – 6 tahun, seperti yang tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas pada pasal 28. Bahkan dalam pasal tersebut juga dijelaskan ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan anak usia dini yaitu: pertama, pembinaan anak usia dini merupakan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Kedua, pengembangan anak usia dini dilakukan melalui rangsangan pendidikan. Ketiga, pendidikan anak usia dini bertujuan untuk dapar membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani (holistik). Dan keempat, pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan persiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Untuk bidang SDM dalam pengembangan PAUD ini dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 29 yang menjelaskan bahwa standar minimal bagi Pendidik PAUD adalah D-IV atau Sarjana dengan latar belakang pendidikan PAUD, psikologi atau pendidikan lainnya yang telah bersertifikasi profesi guru untuk PAUD. Yang kesemuanya merupakan bentuk perhatian Pemerintah betapa pentingnya PAUD bagi bangsa ini.

PEMBAHASAN

PAUD Kunci Pembangunan Insan

Dalam rangka untuk dapat memberikan hal yang terbaik bagi anak bangsa saat fase pertumbuhan seorang manusia ketika berumur 0 – 6  tahun, menjadi teramat penting bagi setiap insan yang sering kali disebut dengan “masa emas” atau “the golden age”, masa tersebut seorang anak harus dipersiapkan “wadah” yang mampu untuk menampung setiap materi, ilmu atau pemikiran dengan mumpuni baik secara jasmani, mental maupun pikirannya dengan semaksimal mungkin untuk menghadapi setiap persoalannya di masa yang akan datang dalam hidupnya kelak.

Menurut hasil penelitian neuroscience menunjukkan bahwa kehidupan intelektual bersumber dari otak manusia. Oleh karena itu bila kita mengatakan bahwa ekspresi dan bentuk prilaku merupakan cerminan dari seseorang maka perkembangan otak pada masa emas tersebut harus betul-betul diperhatikan.

Dalam sebuah penelitian, Bloom mengatakan bahwa pengembangan intelektual seorang anak sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50%, variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi sejak anak berumur 4 tahun, peningkatan mutu 30% selanjutnya terjadi masa usia 4 – 8  tahun dan sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua atau ketika  usia 8 – 15 tahun. Bloom juga mengatakan bahwa umur 0 – 4 tahun merupakan masa-masa penting pertama terhadap kaya miskinnya lingkungan sekitar yang menstimulasi perkembangan intelektuak masnusia. Bahkan selbih jauh ia menjelaskan bahwa ini berpengaruh pada perkembangan IQ dengan perbandingan bahwa lingkungan dengan stimulasi yang kaya akan menambah 10 unit IQ dari pada yang miskin ketika berumur 0 – 4 tahun., kemudian sekitar 6 unit IQ ketika berumur 4 – 8 tahun.

Salah seorang ahli Carla Shaz mengatakan bahwa masa kritis pengembangan tumbuh kembang anak mencakup 5 (lima) hal, yaitu: pertama¸pengembangan penglihatan ketika berumur empat tahun pertama. Kedua, pengembangan perasan emosi sejak umur 2 (dua) bulan sampai mulai berkembang perasaan stress, kepuasan, girang dan sedih. Sedangkan perasaan iri dan empati baru berkembang pada usia 3 (tiga) tahun. Pada masa-masa ini pengasuhan yang penuh kasih sayang, pemenuhan nutrisi dan perawatan kesehatan merupakan persyaratan mutlak bagi pertumbuhan emosi anak. Dan perlu diingat bahwa pada masa ini juga setiap setiap peristiwa yang tidak mengenakkan atau traumatik akan berpengaruh pada keseimbangan emosi yang kemudian berhubungan dengan perkembangan kecerdasan dan empati. Ketiga, perkembangan kemampauan bahasa, sudah dimulai sejak dalam kandungan, ketika berumur 1 (satu) tahun sudah terbentuk “peta perseptual” untuk dapat mengetahui perbedaan suara atau fonem yang diucapkan dan perkembangan ini ditentukan dengan seberapa banyak anak diajak bicara atau mendengarkan. Keempat, kemampuan gerak anak,  masa kritis pengembangan gerakan berlangsung sejak lahir sampai umur 2 tahun, sedangkan masa perkembangan motorik kasar berlangsung hingga berumur 4 tahun. Kelima, perkembangan kemampuan musik, masa kritis pengembangan musik ketika berumur 3 s.d. 10 tahun, hasil penelitian Mozart membuktikan bahwa rangsangan musik sejak dini akan membina pengembangan di bidang visiospatial, matematika dan logika.

Dari beberapa penelitian para ahli ini sudah dapat diketahui betapa pentingnya PAUD bagi setiap orang yang dilahirkan di muka bumi ini, padahal masih banyak penelitian-penelitian para ahli lainnya baik dari sisi gizi, psikologi, dan lain sebagainya yang belum disosialisasikan. Semuanya semakin terlihat ketika diketahui bahwa ternyata HDI Indonesia masih dibawah negara-negara lain yang sudah berhasil dengan lebih baik memberikan layanan PAUD.

 

Dilema Perkembangan PAUD di Indonesia

Namun, menjamurnya pendidikan anak usia dini melalui pendidikan nonformal mengakibatkan tidak terkontrolnya penanganan terhadap anak-anak usia dini dengan baik, padahal masa emas tersebut merupakan masa-masa yang teramat penting dan tidak dapat datang untuk yang kedua kalinya dalam pembentukan otak, fisik dan jiwa seorang anak.

Hal ini menjadi semakin buruk lagi karena perubahan kebudayaan atau kebiasaan hidup ketika zaman kakek-kakek kita dahulu yang lebih mementingkan kebersamaan dalam sebuah komunitas, sehingga tumbuh kembang anak menjadi baik dengan sendirinya oleh berbagai rangsangan ketika mereka berinteraksi dengan komunitasnya untuk dapat memberikan rasa kasih sayang seutuhnya. Saat ini budaya kita lebih cenderung menjadi individualistik, terbukti dengan banyaknya anak-anak kita yang seolah-olah hanya dirangsang dengan “maaf” didikan seorang pembantu, sebagai pengganti ibu-ibu yang bekerja membantu pencarian hidup keluarganya. Permasalahannya orang-orang tersebut atau pembantu belum mengerti betul tentang tumbuh kembang anak bahkan mereka juga tidak mengandung selama 9 bulan sebagai bentuk pembelajaran alam kepada seorang ibu, kasarnya tidak mempunyai hubungan batin yang kuat yang bisa memberikan kasih sayang seutuhnya.

Akibat perubahan pola hidup ini mengakibatkan perubahan pertumbuhan AUD, yang berdampak kepada semakin berkurangnya stimulasi-stimulasi awal yang amat dibutuhkan seorang anak pada masa emas tersebut. Sesungguhnya masa terpenting ini adalah merupakan tanggungjawab dari pendidikan keluarga bukan nonformal maupun formal, dan ini pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan dasar manusia. Akan tetapi dengan kenyataan tersebut diperlukan sebuah pendidikan awal yang diberikan oleh Pemeritah melalui pendidikan nonformal yang saat ini sudah dilakukan atau paling tidak segera mensosialisasikan dengan baik kepada masyarakat tentang pentingnya PAUD tersebut serta hal yang harus dilakukan agar dapat menyelamatkan generasi penerus bangsa ini sehingga mampu mempunyai daya saing tinggi atau paling tidak mampu menghadapi kehidupannya kelak dengan sebaik-baiknya dengan segala potensi yang telah terbangun dengan baik.

Saat ini pengembangan PAUD di Indonesia telah menimbulkan dilema, upaya untuk dapat memberikan pelayanan PAUD kepada setiap anak yang ada di Indonesia, akan tetapi banyak hal yang tidak dapat dipenuhi dengan semestinya. Dan ini bisa menyebabkan perkembangan anak yang tidak optimal sesuai dengan keinginan yang dituju, malah akan lebih membahayakan bila tidak ditangani secara cepat dan tepat karena semua ini berhubungan persiapan segenap potensi yang ada guna dapat membangun seorang insan manusia dalam mengarungi kehidupannya kelak.

Pertama, sesuai dengan PP 19 maka seluruh Pendidik PAUD minimal adalah strata satu. Permasalahannya bagaimana mungkin dapat membuat S1 semua Pendidikan PAUD sejumlah 359 ribu orang (sumber data dari Ditjen PMPTK)  orang untuk dapat melayani 28 juta orang anak usia dini. Bahkan persoalan selanjutnya adalah bahwa ternyata hampir sebagian besarnya merupakan lulusan dari SMP dan SMA, hanya sebagian kecil S1. Atau permasalahan selanjutnya adalah sedemikian pentingkah kualifikasi tersebut bagi seorang Pendidik PAUD ?  Bahkan Prodi untuk khusus Jurusan PAUD hanya sedikit di Indonesia, bisa dihitung dengan jari, bagaimana mungkin dapat dikejar semuanya mengingat masa-masa emas anak-anak tersebut tidak bisa dihentikan waktunya. Berbeda dengan perencanaan Pemerintah yang memberikan waktu 10 tahun untuk mencapai PP tersebut. Sungguh ini amat berbahaya bila tidak secepatnya dicarikan upaya bagi anak-anak yang kita cintai itu.

Kedua, pembangunan kompetensi SDM dari Pendidik PAUD sebagai ujung tombak pengajar bagi anak-anak kita. Ini juga tidak boleh dilakukan setengah-setengah karena merekalah yang nanti akan membentuk anak-anak kita menjadi seperti apa kelak. Bila diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mereka melalui diklat-diklat, maka pertanyaannya adalah seberapa baik kualitas dari diklat tersebut ? Seberapa banyak pemerintah mampu melakukan diklat terhadap Pendidik PAUD ?  Bagaimana Pemerintah mampu untuk dapat melakukan percepatan dalam meningkatkan kompetensi mereka saat ini ?

Ketiga, aspek keibuan secara mental seorang pendidik PAUD, mereka pada dasarnya mereka belum mengerti aspek kejiwaan seorang anak secara kejiwaan karena mereka tidak mengandung atau mengerti rasanya mempunyai seorang anak. Sedangkan dari diklat mereka baru mengetahui tentang kemampuan membaca dan menulis atau kemampuan motoriknya juga aspek kejiwaan dari seorang anak secara teoritis. Sebagai ilustrasi seorang ibu yang diberikan hak asuh oleh Tuhan harus selama 9 (sembilan) bulan mengandung anaknya, waktu tersebut paling tidak akan memberikan pembelajaran kepada seorang wanita tentang arti mendidik seorang anak, seperti kesabaran, mengerti anak, psikologi anak, dan lain sebagainya dengan secara naluriah. Dapat dibayangkan ketika mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan masa-masa penting dalam kehidupan seorang manusia baik untuk perkembangan otaknya, perkembangan motriknya bahkan perkembangan mentalnya, kita malah tidak memperhatikan SDM dari anak-anak kita yang mendidik anak kita, apakah ini tidak malah membahayakan tumbuh kembang anak kita ?  Sudahkah dalam diklat-diklat tersebut diberikan sentuhan tentang arti sebagai Ibu bagi Pendidik PAUD? Sungguh kesemua ini membuat kita kuatir apabila tanpa ada perbaikan-perbaikan pendidikan anak usia dini kita diserahkan kepada mereka.

Keempat, kecilnya insentif yang diberikan kepada Pendidik PAUD, bahkan dibeberapa wilayah ada yang dibayar dengan menukarkan dengan beras, sayur mayur, dsb. Bahkan Pemerintah melalui Dit. PTK-PNF sampai saat ini baru bisa memberikan insentif sebesar 600 ribu per tahun, itu pun tidak semua Pendidik PAUD, masih amat terbatas. Bagaimana mungkin mereka dapat mendidik anak-anak kita dengan baik, mereka sendiri sedang dalam kesulitan dalam hidupnya, ironis bukan.

Keempat, tersebarnya penanganan PAUD dalam berbagai instansi Pemerintah menyebabkan kurangnya koordinasi dengan baik, sehingga penanganannya terkadang menjadi tidak fokus atau bias atau tidak berkesinambungan. Ada baiknya Pemerintah menyatukan keseluruhannya sebagai bentuk perhatian terhadap PAUD dengan membentuk Direktorat Jenderal khusus yang menangani PAUD ini. Sehingga semua bentuk program atau kegiatan akan terkoordinasi dengan baik dan dapat melakukan sebuah perencanaan yang lebih matang serta percepatan-percepatan untuk membangun PAUD ini.

Kelima, saat ini Pemerintah sepertinya lebih mengutamakan untuk dapat melayani anak usia dini sebanyak-bannyaknya atau berdasarkan kuantitas bukan kepada kualitas. Hal ini sesungguhnya sangat berbahaya karena pendidikan itu bukan sebuah pembangunan insan secara utuh, jadi sesungguhnya kedua-duanya tidak dapat dipisahkan. Jangan samakan pendidikan dengan kemiskinan, perbedaan keduanya amatlah besar, Tuhan menciptakan manusia semuanya mempunyai akal karena inilah perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya. Sedangkan kemiskinan merupakan sebuah skenario Tuhan bagi hambanya untuk berkehidupan di bumi ini, sampai kapanpun kemiskinan itu tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini karena merupakan bagian dari realita kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Ketika melakukan penanganan orang-orang miskin dengan lebih memilih kuantitas daripada kualitas kehidupannya, ini sah-sah saja dalam artian standar minimal kebutuhan seorang manusia untuk kehidupannya secara fisik sudah dapat diukur dengan baik. Apakah hal ini juga yang ingin kita lakukan terhadap anak-anak kita ? Padahal jelas bahwa setiap anak itu mempunyai keunikan dan bakat tersendiri per individunya. Bila ini terus dilakukan maka yang terjadi adalah sebuah pemasungan perkembangan insan seorang manusia yang telah diberikan haknya oleh yang Maha Kuasa.

Keenam, keberhasilan yang dilakukan dengan PAUD Pendidikan NonFormal tersebut ternyata berdampak dengan adanya sebutan “saling berebut lahan”, demikian sebutannya ketika adanya kecemburuan antara penanganan PAUD melalui formal, melalui TK, dengan penaganan PAUD melalui pendididikan nonformal seperti Kelompok Bermain, Tempat Penitipan Anak, dsb. Salah satu penyebabnya adalah karena program PAUD yang dilaksanakan oleh Dit. PAUD biayanya tidak mahal dibandingkan dengan program PAUD pada pendidikan formal bahkan sering kali gratis. Ini tidak terlepas dari curahan anggaran yang diberikan kepada PAUD NonFormal yang demikian luas tersebar dan cukup besar jumlahnya, walau tidak memperhatikan betul-betul standar-standar yang harus dipenuhi seperti jalur formal. Faktor yang lain adalah bahwa sifat dari pendidikan nonformal ini menyebabkan setiap lapisan masyarakat yang peduli dan simpati dengan PAUD akan berlomba-lomba untuk dapat melaksanakannya, bahkan sebagian karena perhatian mereka terhadap komunitas mereka, demi masa depan anak cucu mereka mereka.

Inilah yang dinamakan dengan dilema, dimana kita amat sangat mengetahui bahwa PAUD itu teramat penting dan paling berharga dalam kehidupan seorang manusia sehingga sesungguhnya amatlah riskan apabila tidak ditangani oleh orang-orang yang profesional dan betul-betul mengetahui ilmu tumbuh kembang anak. Namun bila ini harus dipenuhi maka semakin tidak terlayani pendidikan anak usia dini yang ada di Indonesia karena keterbatasan SDM bahkan mungkin juga sarana prasarana atau anggaran. Sungguh sebuah permasalahan yang benar-benar harus segera ditangani dengan cepat dan tepat berkenaan dengan dampaknya bagi penerus bangsa yang kita cintai ini dalam kehidupannya di masa yang akan datang.

 

Membangun Insan Kamil

Demi menuju Visi Depdiknas, yaitu “Menuju Insan Indonesia Yang Cerdas dan Kompetitif”, maka PAUD merupakan sebuah kunci pembangunan dalam membangun seorang insan, sehingga tidak bisa dianggap sebelah mata atau setengah-setengah karena akan berdampak kepada pembangunan secara keseluruhan diri seorang manusia, baik itu akal, fisik maupun jiwanya. Masa terpenting dalam pembangunan karakter seseorang sudah dimulai sejak dalam kandungan sampai dengan umur 8 tahun menurut dunia internasional atau 6 tahun menurut UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jadi ketika dipertanyakan mana yang lebih penting dalam memberikan layanan kepada anak usia dini, kuantitas atau kualitas, maka kedua-duanya harus berjalan secara bersamaan dengan kesungguhan-kesungguhan dan sinergi antara Pemerintah dan masyarakat. Karena apabila lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas maka hasilnya adalah anak-anak kita yang tidak bisa bersaing dengan anak-anak lain, mereka banyak akan tetapi selalu kalah dengan anak-anak yang baik secara kualitas dalam mendapatkan PAUD, ini tentu tidak kita harapkan.

Hal yang terpenting lainnya adalah peningkatan mutu dari Pendidik PAUD, Pemerintah harus segera dapat memetakan kemampuan dari seluruh Pendidik PAUD baik dari sisi kompetensi maupun kualifikasi sehingga mereka tidak bekerja dengan sembarangan, juga berkaitan dengan hal-hal uang harus dilakukan kelak untuk dapat meningkatkan kualitas mereka. Sekali lagi nasib anak-anak kita berada di bawah tangan mereka. Selajutnya setiap Pendidik juga harus mampu memetakan kemampuan dari masing-masing individu seorang anak yang masing-masing mempunyai keunikan, juga ini akan berdampak dalam percepatan pembangunan SDM di Indonesia.

Untuk dapat melakukan percepatan maka Pemerintah harus segera dapat membangun berbagai bentuk kemitraan antara Pemerintah dengan Pemerintah, Pemerintah dengan masyarakat melalui LSM atau Orsosmasnya dan Pemerintah dengan Keluarga atau satuan unit terkecil pada masyarakat. Saat ini yang sering terlupakan oleh Pemerintah adalah membangun PAUD pada tataran keluarga atau secara informal, padahal jalur ini sesungguhnya mempunyai peluang yang besar dalam melakukan percepatan untuk pengembangan PAUD ditengah keterbatasan Pemerintah. Selain itu bahwa ternyata perkembangan seorang anak yang berumur 0 – 4 tahun itu ternyata lebih banyak di dalam keluarganya, sehingga dibutuhkan sebuah pendiddikan bagi keluarga tentang pentingnya PAUD dan apa yang harus diperhatikan dalam tumbuh kembang seorang anak.

Namun demikian, ini juga memerlukan keseriusan dalam melaksanakannya karena sasarannya yang demikian luas, juga status sosial mereka yang berbeda, tingkat pendidikan mereka yang berbeda, dan lain sebagainya. Tapi bila program ini berhasil maka sudah pasti akan menyebabkan percepatan yang cukup signifikan.

Sosialisasi merupakan hal yang terpenting guna memberikan penjelasan kepada masyarakat secara luas tentang pentingnya PAUD, serta hal minimal yang harus diketahui untuk dapat dilakukan oleh masyarakat bagi anak-anaknya. Baik itu melalui media cetak, elektronik maupun teknologi informasi.

Ini juga sebagai upaya untuk dapat mengejar ketertinggalan dari layanan PAUD yang saat ini begitu menyebar tapi tanpa memperhatikan isi dari pembelajarannya dengan sebaik-baiknya, bahkan jika perlu pembelajaran PAUD ini dapat diketahui tidak saja oleh Pendidik PAUD akan tetapi seluruh komponen masyarakat, karena sudah barang tentu mereka amat manyayangi anak-anak mereka. Jangan sampai PAUD ini hanya menjadi milik salah satu orsosmas, atau salah satu Direktorat pada Pemerintah, tapi jadikan dia sebagai milik bangsa ini.

Dan terakhir, pembentukkan unit eselon I untuk mengelola PAUD juga dirasakan amat penting dan harus secepatnya dapat dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan kesinambungan program yang dilakukan karena saat ini tidak hanya Depdiknas yang mempunyai program bagi PAUD tetapi tersebar juga pada instansi lain. Departemen Kesehatan dengan program fasilitasi kesehatan gizi seorang anak, Departemen Sosial dengan program kesejahteraan anak, dan Departemen Agama memberikan program untuk dapat memfasilitasi PAUD pada lembaga-lembaga Agama, serta kesemuanya memerlukan sebuah koordinasi untuk dapat melakukan percepatan pengembangan PAUD.

http://www.jugaguru.com/column/21/tahun/2008/bulan/09/tanggal/04/id/791/

sholeh_qosim.jpg

Oleh: Drs. H. Sholeh Qosim, M.Si.

Direktur LPPQ Propinsi Jawa Timur

Anda sudah ‘jatuh cinta’ dengan Al-Qr’an karena rajin membacanya selama bulan Ramadhan. Bagaimana mempertahankan cinta itu sekarang?

Pada bulan Ramadhan, pada umumnya kaum muslimin lebih banyak membaca Al-Qur’an  dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Bahkan disebagian daerah, orang-orang hampir tidak pernah menyentuh kitab suci ini pun pada bulan yang mulia tersebut berusaha untuk membacanya bersama orang-orang lain di masjid-masjid meskipun untuk membacanya harus dituntun dan membacanya dengan susah payah. Ini menunjukkan bahwa pada umumnya setiap muslim  ingin memperbaiki interaksinya dengan al Qur’an dan tentu dengan pemilik kalam suci tersebut.

Sayangnya tidak banyak yang berusaha mempertahankan peningkatan interaksinya dengan Al Qr’an tersebut setelah Ramadhan berakhir, apalagi berusaha untuk lebih meningkatkankannya lagi. Sehingga tahun demi tahun berlalu, tetapi kualitas interaksi kebanyakan orang dengan Al Qur’an seperti ‘jalan di tempat’.

Padahal, Ramadhan adalah salah satu sarana yang Allah berikan kepada umat Islam untuk dapat meningkatkan kualitas dirinya setiap tahun. Salah satu yang menunjukkan hal ini  adalah dihapusnya dosa-dosa bagi setiap muslim yang berpuasa hanya mengharapkan ridha Allah.

Tentu saja penghapusan dosa ini bukan berarti bahwa seseorang dibuka baginya kesempatan berikutnya untuk kembali mengumpulkan dosa. Akan tetapi itu adalah rahmat Allah kepada setiap orang yangmendambakan dirinya ketika bertemu Allah, dalam keadaan bersih tanpa dosa. Jadi, rahmad Allah berupa penghapusan dosa ini harus disertai upaya peningkatan kualitas beragama.. di antaranya berinteraksi dengan AlQur’an.

Sejauh mana seorang muslim berinteraksi dengan Al Qur’an, sedalam itulah ia akan lebih mengenal Allah, dan tentu dirinya sendiri. Tentu hal ini terjadi jika bentuk interaksinya dengan Al Qur’an tidak sebatas membacanya tenpa mengerti apa isinya. Karena bukanlah Al Qur’an itu pedoman hidup muslim? Bagaimana kita berpedoman dengan suatu yang kita sendiri tidak mengerti?. Maka, upaya untuk memahami isi Al Qur’an jelaslah diperlukan oleh setiap muslim. Dan upaya itu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Setiap orang pun  dituntut untuk meningkatkan upaya tersebut.

Bagi orang yang betul-betul ingin agar Ramadhan tahun ini membawa peningkatan dalam dirinya dalam hal berinteraksi dengan Al Qur’an, hendaklah ia membulatkan tekad untuk berinteraksi lebih dalam lagi dengan kalam Allah yang mulia ini.

Apa sajakah bentuk-bentuk interaksi dengan Al Qur’an itu? Dan bagaimana tahap-tahap untuk meningkatkannya? Semoga sumbangan saran di bawah ini dapat membantu untuk memualai langkah mulia tersebut.

1.       Berusaha membaca dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar dalam membaca Al Qur’an baik dalam pengucapan (makhraj) maupun aturan cara membacanya (tajwid). Bagi yang belum dapat mebaca Al Qur’an sesuai dengan aturan tersebut, maka upaya untuk dapat membacanya dengan benar itu yang perlu didahulukan. Kemampuan membaca dengan benar haruslah diperjuangkan. Lebih baik lagi jika ditopang juga dengan mempelajari kaidah-kaidahnya secara teori, agar ketka ia membacanya, ia membacanya dengan pemahaman yangkuat akan kaidah-kaidah membaca Al Qur’an tersebut. Ini lebih menentramkan.

2.       Berusaha memahami apa yang dibaca. Inilah pokok interaksi dengan Al Qur’an. Karena Allah menurunkan Al Qur’an untuk menjadi penuntun. Secara garis besar, ada dua cara untuk memahami apa yang dibaca dalam Al Qur’an tersebut:

·         Dengan cara membaca terjemahannya. Ini adalah yang paling simpel yang dapat dilakukan siapa saja. Jadi Al Qur’an dan terjemahannya jelaslah dibutuhkan. Jika seorang muslim tidak mengerti bahasa arab, dan ia mampu berupaya untuk memiliki Al Qur’an dan terjemahannya namun sama sekali tidak berusahauntuk mendapatkannya, maka sadar atau tidak hal ini menunjukkan bahwa ia tidak ingin menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Padahal itulah tujuan diturunkannya Al Qur’an.

·         Dengan mempelajari bahasa Al Qur’an, yaitu bahasa arab. Setiap muslim yang sungguh-sungguh ingin memahami apa yang diinginkan Al Qur’an terhadap dirinya, sedangkan ia belum memahami bahasa arab, hendaklah mempelajari bahasa Al Qur’an itu menjadi salah satu agenda utamanya. Kapan waktunya, sangat tergantung kondisi masing-masing, namun begitu ada kesempatan segeralah memulainya.

3.       Berusaha menghafal Al Qur’an dan memelihara hafalan yang sudah ada. Agar lebih bersemangat dalam menghafal ini, perlu ditetapkan target-target yang ingin dicapai. Misalnya sesudah lebaran tahun ini sampai menjelang Ramadhan tahun depan, target yang hendak dicapai adalah hafal dengan baik juz 30, atau setengahnya. Target tentu saja dibuat sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. Pada umumnya orang yang menghafal Al Qur’an memerlukan pembimbing dan teman-teman yang sama-sama menghafal Al Qur’an, sehingga terbentuk suasana yangmendukung program tersebut.

4.       Berusaha membangun rumah yang hangat oleh Al Qur’an. Apapun bentuk kegiatan berinteraksi dengan Al Qur’an yang kita lakukan ini, pada tahap manapun kita, hendaklah juga dilakukan oleh orang-orang yang ada di rumah tempat kita tinggal. Tentu saja apa yang dilakukan oleh anggota keluarga yang lain bukan berarti harus sama persis dengan apa yang kita lakukan, namun sedapat mungkin mendekati kesamaan. Keluarga yang sama-sama mempelajari bahasa arab, atau sama-sama menghafal Al Qur’an lebih cepat memperoleh hasil belajar dari pada jika hanya salah satu anggota keluarga melaksanakan salah satu atau semua hal tersebut.

Kurikulum untuk Anak Usia Dini

30 September 2008


abi.jpg

Oleh: MOCH. NACHWAN, S.Pd.

Konsultan Pendidikan RA. Anak Shaleh

 Kurikulum untuk anak usia dini, perlukah?

Anak-anak usia dini hidup dalam dunia bermain. Meskipun demikian,tak ada salahnya jika orang tua memiliki rancangan bahan atau materi untuk mengisi hari-hari mereka. Hal yang pasti, kurikulum untuk anak usia dini haruslah sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan minat anak.

Kelas-kelas prasekolah seperti Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK) pasti memiliki kurikulum dan target-target, namun karena tuntutan aturan formal, mau tidak mau guru akan menilai perkembangan anak secara kasar, berdasarkan akumulasi kemampuan yang dikuasai anak selama kurun waktu tertentu. Jelas penilaian itu tidak valid, karena ketika guru memasuki kurikulum mewarnai misalnya, beberapa anak mungkin belum siap dengan fase itu. Mereka mungkin menolak untuk melakukannya atau hanya membubuhkan satu coretan pendek di kertasnya, karena dia memang belum berminat.

Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Tak peduli apakah anak-anak masuk TK ataupun tidak, tugas orang tua-lah untuk memahami anak-anaknya dengan baik, sehingga tahu kapan harus memperkenalkan sebuah keterampilan, kapan harus menundanya, kapan harus memacunya lebih kencang, dan bagaimana membuat anak menjadi tertarik untuk mempelajari sesuatu tanpa harus dipaksa oleh waktu dan penilaian pihak lain.

Pendidikan sungguh jauh melampaui batas-batas nilai kuantitatif seperti diterapkan di sekolah. Pendidikan adalah rangkaian proses belajar untuk menjadi manusia yang terus tumbuh, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Menyusun kurikulum untuk anak usia dini berarti siap mengikuti irama mereka dan siap untuk melangkah lebih jauh saat mereka berminat untuk tahu lebih banyak. Ketika anak-anak diperkenalkan tentang kuda misalnya, bisa jadi rasa ingin tahu mereka berkembang, ingin tahu tentang makanannya, di mana tidurnya, dan mungkin ingin mencoba menaikinya dan mengoleksi gambar-gambarnya.

Adapun secara terstruktur, ada banyak model kurikulum anak usia dini yang telah dikembangkan di dunia. Kurikulum Montessori adalah salah satu di antaranya. Model ini cocok bagi mereka yang senang dengan keteraturan dan mengharapkan anak-anak juga bersikap teratur dan runut. Sebuah buku berjudul Montessori untuk Prasekolah yang disusun oleh seorang praktisi kurikulum Montessori bernama Elizabeth G. Hainstock dan diterbitkan edisi terjemahannya oleh penerbit Delapratasa Publishing, bisa menjadi pilihan untuk mengetahui lebih detail kegiatan-kegiatan ala Montessori.

Melalui buku tersebut akan kita temukan bahwa model Montessori lebih banyak mempergunakan perabotan rumah tangga sebagai media dan mempergunakan kegiatan rutin sehari-hari di rumah sebagai aktivitas belajar.

Temuan tentang multi kecerdasan oleh Howard Gardner juga bisa menginspirasi kita untuk menyusun kurikulum. Delapan bahkan sembilan jenis kecerdasan versi Gardner, yaitu: kecerdasan bahasa, logika-matematika, visual-spasial, fisik, interpersonal, intrapersonal, musikal, natural, dan spiritual bisa dijadikan acuan untuk memilih ragam kegiatan belajar-bermain di rumah.

Buku yang ditulis Thomas Amstrong berjudul Sekolah Para Juara mencoba menjabarkan konsep multi kecerdasan tersebut dalam konteks sekolah formal untuk anak-anak yang lebih besar. Namun bukan tidak mungkin hal itu bisa menginspirasi para orang tua yang memiliki anak usia dini untuk menerapkan jalan pikiran Amstrong ke dalam konteks belajar anak usia dini di rumah.

Kurikulum berdasarkan Perkembangan Anak
Perkembangan anak secara umum ternyata bisa diukur dengan beberapa ukuran berikut: perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan moral & sosial, emosional, dan komunikasi (Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini:192. Penerbit: Hikayat Publishing. Yogyakarta)

Kita bisa menciptakan kurikulum dengan mengacu pada teori tersebut. Berikut gambaran kasar kurikulum yang mungkin diterapkan:

Perkembangan fisik motorik
- Motorik Kasar: Berlari, memanjat, menendang bola, menangkap
bola, bermain lompat tali, berjalan pada titian keseimbangan, dll.

- Motorik Halus: Mewarnai pola, makan dengan sendok, mengancingkan baju, menarik resluiting, menggunting pola,menyisir rambut, mengikat tali sepatu, menjahit dengan alat jahit tiruan, dll.

- Organ Sensoris:Membedakan berbagai macam rasa, mengenali berbagai macam bau, mengenali berbagai macam warna benda, mengenali berbagai benda dari ciri-ciri fisiknya, mampu membedakan berbagai macam bentuk, dll.

Perkembangan Kognitif
Misalnya: mengenal nama-nama warna,mengenal nama bagian-bagian tubuh, mengenal nama anggota keluarga,mampu membandingkan dua objek atau lebih, menghitung, menata, mengurutkan; mengetahui nama-nama hari dan bulan; mengetahui perbedaan waktu pagi, siang, atau malam; mengetahui perbedaan kecepatan (lambat dan cepat); mengetahui perbedaan tinggi dan rendah, besar dan kecil, panjang dan pendek; mengenal nama-nama huruf alfabet atau membaca kata; memahami kuantitas benda, dll.

Perkembangan Moral dan sosial
Misalnya: Mengetahui sopan santun, mengetahui aturan-aturan dalam keluarga atau sekolah jika ia bersekolah, mampu bermain dan berkomunikasi bersama teman-teman, mampu bergantian atau antre, dll.

Perkembangan Emosional
Misalnya: Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, dan saudaranya; menunjukkan rasa empati; mengetahui simbol-simbol emosi: sedih, gembira, atau marah dan mampu mengontrol emosinya sesuai kondisi yang tepat.

Perkembangan Komunikasi (Berbahasa)
Misalnya: Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata,mampu melafalkan kata-kata dengan jelas (bisa dimengerti oleh orang lain).

Begitu beragam model kurikulum yang ada. Mau pilih yang mana? Mengumpulkan sebanyak mungkin sumber dan memilahnya sesuai kekhasan keluarga masing-masing adalah cara paling baik agar kita memiliki bahan yang lebih kaya untuk anak-anak kita.

Salam Pendidikan!

http://pendidikan-rumah.blogspot.com/

pict0095a.jpg

oleh: NURUL MUTIMATUL ISLAMIYAH

Guru RA. Anak Shaleh

Sesekali anak malas sekolah adalah hal yang wajar. Tapi orangtua tetap harus bijak menyikapi sikap tersebut, agar anak tetap menyadari arti pentingnya sekolah. Sikap anak yang menunjukkan malas ke sekolah kerap membuat orangtua panik.

Untuk mengatasi sikap anaknya, banyak orangtua yang berusaha membujuk dengan iming-iming barang atau sesuatu yang disukai agar anaknya mau sekolah. Bahkan ada juga yang memarahi dan menghukum anak.

Memang kadang cara itu cukup efektif namun tidak menumbuhkan kesadaran anak akan pentingnya sekolah. Kalaupun anak berangkat juga, dia melakukannya dengan keterpaksaan karena takut dimarahi orangtuanya.

Menurut Psikolog Desi Adriana dari Growth Consultan, anak malas sekolah sesuatu yang wajar terjadi. Rasa malas itu bisa muncul kapan saja. Baginya terpenting yang harus dilakukan orangtua jika anaknya menunjukkan tanda-tanda enggan ke sekolah, seperti malas bangun pagi, tak mau mengerjakan PR, pura-pura sakit dan lainnya, jangan langsung dimarahi. Tapi harus cari tahu penyebab anak demikian. Sebab jika malas sekolah terus terjadi dan orangtua tak tahu penyebabnya bisa-bisa anak makin malas sekolah atau bahkan membenci sekolah.

Banyak manfaat jika orangtua tahu penyebab anak bosan sekolah, anda jadi bisa menangani dan menyadarkan mereka pentingnya sekolah. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk membangkitkan anak untuk mau sekolah lagi. Pertama cobalah beri gambaran pada anak bahwa sekolah sangat penting bagi kehidupanya kelak. Misalnya dengan mengatakan, “jika Adek ingin jadi dokter harus rajin sekolah, biar bisa mengobati mama kalau sakit.”

Selain itu, orangtua juga bisa mengambarkan bahwa sekolah adalah kegitan yang menyenangkan. Contohnya dengan mengatakan, di sekolah kamu bisa bertemu dan bermain teman-teman. Dengan banyak teman kalau kamu kesulitan banyak yang menolong. Di sekolah juga ada tempat bermain yang asyik yang nggak kamu temui di rumah.

Turuti & Beri Peringatan

Kalaupun dengan tindakan itu, anak tetap berkeras tidak masuk sekolah. Meskipun terpaksa, menurut Desi sesekali orangtua boleh menuruti keinginannya. Sebab jika dipaksakan sekolah, mungkin anak jadi bete dan malah merasa sekolah tak menyenangkan. Namun sebelumnya harus diberikan peringatan tegas dengan mengatakan, “untuk kali ini mama kasih ijin kamu nggak masuk sekolah, tapi adek harus cerita kenapa nggak mau sekolah.” Dengan cara tersebut, anak diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya, dan tidak hanya dipandang sebagai objek yang harus selalu menuruti apapun kemauan orangtua.

Apa penyebab anak malas/bosan sekolah?

Banyak hal yang penyebabnya. Misalnya karena beban pelajaran yang terlalu berat, terlalu banyak les, lingkungan sekolah yang tidak menyenangkan, jarak sekolah terlalu jauh dsbnya. “Banyaknya mata pelajaran dan PR bisa membuat anak nervous dan terbebani. Akibatnya ketika pulang sekolah anak sering terlihat uring-uringan dan tidak mau sekolah keesokan harinya.”

Jika orangtua tahu penyebabnya adalah beban pelajaran yang berat, orang tua harus aktif mengetahui tugas apa saja yang diberikan guru pada anak. Periksalah kapan waktu penyerahan tugas yang ditentukan guru, bimbing dan koreksi anak dalam mengerjakan PR. Jika tahu penyebabnya kita bisa memberikan solusi terbaik buat anak. (Sumber: Indo family.net)

pict0091b.jpg

oleh: Chumaidah Umaroh

Guru RA. Anak Shaleh

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

(Q:Al-Ma’idah: 88)

Akhir-akhir ini beragam isu kesehatan menjadi topik hangat yang dibicarakan berbagai kalangan, termasuk para orangtua. Kasus formalin, boraks, hingga zat pewarna pada makanan membuat kita semua harus lebih hati-hati lagi dalam memilih makanan terutama makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Dalam hal ini para orangtua harus melakukan pengawasan lebih ketat terhadap makanan apa saja yang dibeli bebas alias jajanan, tidak terkecuali makanan yang disediakan di kantin sekolah.

Dengan kondisi tersebut, diperlukan komunikasi antara orangtua murid dan guru untuk saling memberikan masukan dan pengawasan pada makanan di kantin sekolah dengan memberikan dan menyediakan makanan yang sehat dan bergizi bagi murid.

Berikut ini informasi penting yang bisa Anda jadikan bahan diskusi dan beberapa tips mengatasi kebiasaan jajan :

Zat terlarang yang terkandung dalam bahan makanan:

  • Zat pewarna yang dilarang, antara lain auramine, metanil yellow, chrysoidine, rhodamin, burn umber. Zat pewarna yang dimaksud dipergunakan untuk pewarna industri tekstil dan lain-lain.
  • Zat pengawet, seperti nitrofuran, asam benzoate, dan kloroform. Formalin dan boraks juga berada di antara pengawet yang dilarang karena bukan untuk digunakan pada makanan.
  • Zat pemanis, sakharin dan siklamat.

Bahaya yang mengancam:

  • Zat pewarna seperti rhodamin, jika dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan kanker hati beberapa tahun mendatang.
  • Vetsin atau mono sodium glutamate (MSG) yang dikonsumsi secara berlebihan bisa menyebabkan kanker. Dalam jangka pendek bisa juga menyebabkan pusing dan mual.
  • Formalin dan boraks bisa membuat gangguan pencernaan, muntah-muntah, hingga depresi system saraf.
  • Pencemaran timbal (Pb) pada makanan yang dijajakan di pinggir jalan tidak bisa diremehkan karena bisa mengakibatkan infertilitas, kelumpuhan, mual, dan muntah-muntah, sakit kepala, hingga kesulitan berpikir.
  • Selain timbale, makanan jajanan yang tidak higienis sangat mungkin tercemar bakteri E.coli. Bakteri ini menyebabkan sakit perut, diare dan gangguan pencernaan lainnya.

Tips menghindari jajanan:

  • Biasakan makan pagi. Hal ini efektif untuk mengurangi nafsu jajan pada anak dan remaja.
  • Membawa bekal. Dengan membawa bekal, selain kebersihan terjaga, nutrisi juga dijamin seimbang.
  • Sediakan kudapan/camilan sehat di rumah, bisa berupa buah, kue rendah kalori atau yoghurt.
  • Variasi makanan di rumah. Menu yang berganti-ganti membuat kita tidak cepat bosan dan mencari pilihan lain di luar rumah, yang belum tentu memenuhi syarat gizi. Ini bisa diterapkan juga di kantin-kantin sekolah dengan menyediakan makanan yang sehat yang variatif dan bergizi, sehingga murid tidak membeli jajanan di luar sekolah.
  • Jangan biasakan mengganti makanan dengan jajanan.
  • Jangan terlalu sering makan di restoran fast food. Makanan yang ditawarkan umumnya mengandung garam yang tinggi dan penyedap rasa berlebih. Kandungan kalorinya juga lebih besar disbanding kandungan nutrisinya. Protein, mineral dan vitaminnya pun sangat rendah.

Dengan mengetahui dampak baik dan buruk dari makanan jajanan, paling tidak kita bisa meminimalisir hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.

pict0088b.jpg

oleh: SITI KHALIMATUS SA’DIYAH, A.Ma.

Guru RA Anak Shaleh

Namanya saja anak-anak, pasti selain pandai pasti juga nakal. Sebab anak-anak pada dasarnya memang rasa keingintahuannya sangat tinggi, dengan masih belum bisa memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.
Tapi kadang-kadang kenakalan anak-anak ada yang terasa lebih, mungkin cenderung ke arah sifat jahat atau kriminal. Kalau si anak sudah memperlihatkan perilaku seperti ini, sebagai orang tua tentu kurang bijaksana bila hanya menyalahkan dan menghukum si anak semata-mata.
Ada beberapa hal yang bisa di evaluasi oleh sang orang tua untuk berusaha membenahi perilaku menyimpang dari si anak, sebab tak ada kata terlambat untuk membenahi hidup sepanjang hidup itu sendiri masih bertengger di leher kita.
1.Lihat lingkungan luar si anak. Bagaimana dengan kegiatan sekolah si anak? Bagaimana dengan pergaulan dan sosok teman-teman dari si anak?
2.Kenali lingkungan dalam si anak. Apa kegemaran si anak ketika di rumah? Suka bermain di halaman rumah atau hanya gemar menonton televisi? Kalau suka menonton televisi, acara seperti apa yang si anak suka tonton? Maaf saja, realitanya secara umum acara-acara televisi di republik ini sangat tidak mendidik untuk anak-anak, sekali lagi untuk anak-anak. Bahkan ada seorang ekstrem pernah berujar bahwa jika demi anak-anak, maka matikan televisi.
3.Cermati cara mendidik sang orang tua. Apakah sang orang tua hanya bisa memerintah tanpa memberi contoh? Sebab kadang kala keegoisan sang orang tua akan bisa membingungkan si anak. Contoh ringan, sang ibu menginginkan si anak untuk belajar atau mengerjakan PR, tapi sang ibu masih saja asyik menonton sinetron kesayangannya. Atau sang ayah yang memerintahkan pada si anak untuk segera tidur pada jam 9 malam, tapi sang ayah tetap saja begadang di depan televisi yang menyala. Bukankah di mata si anak, sang orang tua adalah idola. Jika sang idola saja ucapan dan tindakan tidak sejalan seperti itu, coba bayangkan saja apa yang ada di benak si anak?
4.Dalami perilaku hubungan berumah tangga antara kedua orang tua. Apakah selalu terjadi pertengkaran dengan kata-kata kotor atau malah kekerasan fisik? Apakah selalu harmonis lahir batin? Apakah kejujuran dan kesetiaan selalu di genggam kedua orang tua? Sang ayah menghargai sang ibu, sang ibu menghormati sang ayah, seperti itukah?
5.Telusuri asal dari segala apa yang dipakai dan di makan oleh si anak. Kalau semuanya berasal dari harta sang orang tua, maka dari mana dan bagaimana sang orang tua mendapatkannya? Apa dari mengmbil harta orang lain? Atau dari tetesan darah dan keringat sang orang tua tanpa pernah menyakiti sekitar?
6.Resapi perilaku dan pengakuan sang orang tua pada si anak ketika masih di dalam perut sang ibu. Apa sang orang tua menganggap biasa-biasa saja karena si anak belum lahir? Atau sang orang tua selalu menyapa selamat pagi, siang, sore dan malam pada si anak? Seberapa sering sang ayah mengelus-elus perut sang ibu sambil mengajak berbicara si anak? Atau pernahkah sang ayah membisikan ayat-ayat Tuhan atau memperdengarkan alunan musik-musik klasik semacam mozart pada si anak yang masih di dalam perut sang ibu?
7.Rasakan kembali cara sang orang tua ketika bercinta atau berhubungan intim. Apakah seperti hewan yang tanpa ba bi bu langsung gebrak gebrak dan gebrak? Atau layaknya manusia yang selalu mengawali dengan menyucikan diri, mengingat dan memohon pada sang Pencipta?
8.Ingat kembali malam pertama ketika baru melaksanakan pernikahan. Apa ketika itu sang orang tua merasa bahwa dunia hanya milik berdua saja? Atau malah mengawali malam pertama dengan sebuah ibadah sebagai tanda syukur dan harapan pada Tuhan atas kesempatan bisa melakukan pernikahan?
9.Kenang kembali perilaku sang orang tua ketika sebelum menikah. Apa meliarkan kelaminnya? Atau selalu menjaga kehormatan dan kesucian kelaminnya?

Saya yakin! Berbagai pilihan, perilaku dan keputusan sang orang tua dari 9 hal di atas, akan menjadi kombinasi terakumulasi yang membentuk bagaimana si anak tumbuh dan berkembang. Bagi teman-teman yang sudah menjadi orang tua tentu tak bisa membenahi kesalahan di masa lalu, it’s OK. Benahi keadaan sekarang dan masa depan, tak ada kata terlambat!
Bagi teman-teman yang belum menjadi orang tua, tentu kesempatan masih terbuka lebar, untuk membenahi diri jika ada kesalahan. Sebab kesalahan kita sekarang mungkin bisa jadi pemicu penyimpangan perilaku anak cucu kita kelak.
Bukan begitu teman-teman? Saya tunggu kritikannya..

Mencetak Generasi Qur’ani

28 September 2008

sholeh_qosim.jpg

oleh: Drs. H. Sholeh Qosim, M.Si.

Direktur LPPQ Jawa Timur

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan”.

Ust. Zubeir Syafawi, anggota komisi IX DPR-RI, mengawali kajian akbar Sabtu lalu (20/09) dengan mengutip hadist Rasulullah tentang kesombongan. Disaat beliau menyampaikan taujih bertema “Mencetak Generasi Qurani”.

Berikut jurnalnya, yang ditulis (tangan) oleh Bu Salamah (guru SMP), setelah di ketik dan diedit seperlunya oleh admin :

Secara fitrah, setiap manusia mengharapkan surga. Tetapi surga itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki rasa sombong seperti sabda Rasulullah di atas.

Lalu, siapakah orang yang sombong itu?
Salah satu orang yang sombong yaitu orang yang menolak dan meremehkan Al-Quran. Kita bisa melihat sekarang, umat Nabi Muhammad SAW banyak yang mengabaikan Al-Quran. Fenomena ini sebagaimana prediksi Rasulullah saat mengadu kepada Allah, “Ya Tuhanku, ada masa dimana sebagian umatku banyak yang menyia-nyiakan Al-Quran”.

Indikasi seseorang menyia-nyiakan Al-Quran itu, paling tidak dapat dilihat dari :
1. tak mau membacanya
2. membaca, tapi tak mentadabburinya (merenunginya)
3. tak mau menghadiri majelis taklim/tafsir Al-Quran
4. tak menjalankan apa yang dipesankan dalam Al-Quran.

Padahal, salah satu keistimewaan Al-Quran adalah, membacanya saja sudah mendapatkan pahala.Oleh karena itu, jikalau ingin mencetak generasi Qurani, maka seorang pencetak harus memahami terlebih dahulu isi Al-Quran, juga karakter-karakter generasi Qurani.

Generasi Qurani memiliki karakter sebagai berikut :
Pertama, Karakter Tauhid. Karakter ini harus ditanamkan sejak awal, seperti tentang sifat dan nama-nama Allah yang akan menjadi landasan utama untuk bisa memahami Al-Quran secara utuh. Misalnya saja bagaimana cara kita memahamkan kepada anak-anak tentang arti tasbih, takbir, dan tahmid.Karena didalam kalimat tersebut ada ekspresi ketauhidan.

Kedua, Karakter Sami’na wa atha’na (Ketaatan kepada perintah Allah). Karakter tersebut akan terbentuksetelah memahami tauhid. Sebab karakter sami’na wa atha’na adalah ketika mendapat perintah/anjuran dari Allah maka ia langsung melaksanakannya tanpa tawar, meskipun ia belum memahami. Karena selain dari itu maka akan termasuk dalam golongan orang-orang fasik. Hal sepele, nyamuk misalnya, maka orang yang bukan mukmin tidak akan percaya kalau nyamuk itu membaca Al-Quran atau berdzikir, tapi orang-orang mukmin mempercayai hal itu. Orang yang taat akan melakukan kententuan dan ketetapan Allah semampu dirinya.

ketiga, Karakter Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa). Mendidik generasi Qurani dilakukan kepada orang-orang yang suka membersihkan diri. Karena orang-orang seperti itulah yang akan dengan mudah memahami karakter tauhid dan karakter sami’na wa atha’na. Membersihkan diri bisa diawali dengan pemahaman dan pemikiran yang benar.

Keempat, Karakter memberikan manfaat kepada orang lain. Seperti sabda Rasul, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Maka mendidik generasi Qurani juga harus bisa menumbuhkan karakter tersebut. Karakter yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain, Sehingga nantinya akan bisa bermasyarakat dengan baik pula.

Simpulannya, seseorang yang bertekad hendak menjadi generasi Qurani, akan memperhatikan dengan sungguh-sungguh segenap inderanya. Dalam kalimat sederhana, ia akan selalu bersikap berhati-hati terhadap apa yang tangannya lakukan, memilah-milah tayangan yang dilihatnya, ataupun suara yang didengarnya,

Mengapa Harus Belajar Sempoa?

27 September 2008

pict0092b.jpg

oleh: Ambariawati

Guru RA. Anak Shaleh

Teknologi berhitung boleh semakin canggih, tetapi ada warisan lama yang justru semakin digali orang. Sempoa adalah contohnya.

Metode berhitung dengan sempoa telah diterima di dunia internasional sebagai salah satu alternatif mengoptimalkan kerja otak.

Dengan sempoa, otak kiri dilatih dengan logika sempoa, sedang otak kanan dilatih imajinasi pergerakan biji-biji sempoa.

Sempoa sistem 1-4 atau sempoa Jepang (soroban) merupakan sistem desimal murni yang hanya terdiri dari 2 baris manik-manik. Baris bagian atas terdiri dari 1 baris manik-manik dan baris bagian bawah terdiri dari 4 baris manik-manik. Ada juga soroban dengan 5 baris manik-manik pada setiap kolom.

Baris manik-manik bagian atas (sebuah manik-manik per batang) bernilai 5, sedangkan manik-manik bagian bawah (4 manik-manik per batang) bernilai 1. Garis tengah di antara kelompok manik-manik tersebut disebut “garis nilai”. Pada kondisi nol, tidak ada manik-manik yang menempel pada garis nilai. Batang sempoa pada posisi paling kanan bernilai satuan, dengan batang di sebelah kirinya bernilai puluhan, ratusan, dan begitu seterusnya ke arah kiri.

Soroban diajarkan di sekolah dasar di Jepang sebagai bagian dari pelajaran operasi operasi aritmatik untuk memperlihatkan bilangan desimal secara visual. Pada waktu belajar menghitung dengan soroban di kelas, guru biasanya memberi instruksi penambahan atau pengurangan dengan bernyanyi.

Sempoa  awalnya berkembang di daratan cina. Tidaklah salah nabi memerintahkan ‘tuntutlah ilmu sekalipun sampai di negeri Cina’. Kini, siswa RA. Anak Shaleh Suwayuwo Sukorejo tidak usah jauh-jauh pergi ke negeri Cina, karena salah satu ilmu pengetahuan dari cina telah dipelajari mulai dari kelas A. Dengan latihan yang efektif akan terbentuk mental aritmatika, terbentuknya mental aritmatika inilah yang menjadi muara akhir belajar Sempoa Mental Aritmatika.

pict0094b.jpg

 

 

 

 

 

disunting oleh: Hj. Maftukhah, S.Pd

Kepala RA. Anak Shaleh

Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak batita. Tari Sandjojo, Psi., dari Cikal Jakarta memaparkan aneka jenis sarana bermain yang bisa sesuai bagi anak batita. Tentu saja lengkap dengan manfaatnya bagi berbagai aspek perkembangan anak.

Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak
batita. Perhatikan pula aspek-aspek kebersihan dan keamanannya.

Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Boleh dibilang sepanjang
waktu mereka diisi hanya dengan bermain, kecuali saat tidur. Baik
bermain menggunakan alat dengan berbagai bentuk dan ukuran, maupun
tidak. Si anak menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat bermain untuk
berlari, meloncat-loncat, merangkak, dan sebagainya. Bisa dibilang tak
ada tempat yang tidak bisa dijadikan tempat bermain baginya. Entah yang
outdoor maupun indoor.

Tari Sandjojo, Psi., dari Cikal Jakarta memaparkan aneka
jenis sarana bermain yang bisa sesuai bagi anak batita. Tentu saja
lengkap dengan manfaatnya bagi berbagai aspek perkembangan anak.

PEROSOTAN

Anak bisa menikmati sensasi ketinggian, terlebih saat ia berada di
puncak perosotan dan siap meluncur. Belum lagi merasakan bagaimana
tubuhnya terasa melayang kala meluncur ke bawah hingga akhirnya
mendarat di ujung perosotan. Sebelum meluncur pun anak harus menjalani
proses naik tangga. Motorik kasar anak benar-benar teruji, termasuk
bagaimana menjaga keseimbangan tubuhnya saat menapaki anak tangga.
Selain itu, anak juga belajar mengenai peraturan. Di antaranya mesti
tertib bergiliran naik satu per satu dan tidak boleh naik dari papan
luncurnya agar tidak tertabrak anak lain di atasnya.

AYUNAN

Anak akan merasakan kenikmatan tersendiri saat tubuhnya terayun secara
kencang atau lambat maupun tinggi atau rendah dari tempat berpijak. Ia
juga jadi belajar mengantisipasi bahaya. Jika ada yang mengayunnya dari
depan atau belakang, misalnya, tentu harus diingatkan karena tindakan
ini justru membahayakan si pengayun. Selain itu anak pun dilatih untuk
mempertajam kemampuan kontrol dirinya agar tidak berayun terlalu cepat
dan tidak pula kelewat lamban.

PERMAINAN PASIR

Pilih butiran pasir yang lembut dan halus serta tidak menempel di kulit
anak. Dengan dikenalkan pada permainan pasir, anak akan belajar
mengenai tekstur kasar. Begitu juga tentang panas dan dinginnya pasir,
maupun perubahan bentuk saat dicampur air. Bukankah ini berarti
mengenalkan anak pada dunia ilmu pengetahuan, tepatnya belajar IPA
secara sederhana.

Tentu saja dalam memilih pasir tersebut orang tua harus hati-hati
mengingat material ini dapat pula menjadi tempat tinggal bagi binatang
kecil. Bukan tidak mungkin ada binatang yang bisa membahayakan atau
setidaknya membuatnya takut dan cedera.

STEPPING & BALOK KESEIMBANGAN

Imajinasi anak dirangsang melalui permainan ini. Arahkan anak seakan ia
harus menyebrangi sungai yang deras dengan balok itu. Jika cuma
berjalan dan berlalu begitu saja di atasnya, yang didapat anak hanyalah
kesempatan melatih motorik dan keseimbangannya saja, tapi bukan
imajinasinya.

MANDI BOLA

Lewat permainan ini anak akan mengalami sensasi yang beragam. ”Oh
seperti ini ya rasanya berenang dalam kolam bola. Beda dengan masuk
kolam air yang bisa membuatku tenggelam, terjun ke kolam ini empuk dan
tidak membuatku tenggelam. Kalaupun aku tenggelam karena banyak gerak,
aku tetap bisa bernapas, kok.” Belajar mengenai konsep warna dan
bentukpun bisa diperoleh anak di sini. Begitu juga dengan belajar
menentukan arah jika anak ingin main lempar bola.

MAIN AIR

Umumnya anak usia batita hobi main air. Ia masih dikuasai rasa ingin
tahu atau keinginan bereksplorasi, termasuk terhadap air. Meski ada
juga yang takut terhadap air karena pernah mengalami pengalaman tak
menyenangkan dengan material ini. Sayangnya, tidak sedikit orang tua
yang justru membentengi rasa ingin tahu anak terhadap air dengan banyak
melarang. Semisal jangan mandi lama-lama, enggak boleh main
hujan-hujanan atau becek-becekan, dan sejenisnya.

Padahal menurut Tari, manfaat bermain air itu sendiri cukup banyak.
Selain bisa merasakan adanya sensasi yang menyenangkan, mengapa tidak
dioptimalkan dengan mengarahkan anak untuk mencintai dunia ilmu
pengetahuan? Fasilitasi rasa ingin tahunya dan kegemarannya bermain air
dengan menghadirkan wadah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mencampur
air dengan cat air, pasir, atau tepung akan membantu anak menemukan
banyak hal baru mengenai berat jenis, volume, perubahan bentuk, warna,
dan sebagainya.

GORONG-GORONG/TEROWONGAN

Karena suasana yang dihadirkannya amat berbeda, gorong-gorong memberi
sensasi tersendiri sebagai sarana bermain bagi anak. Saat berada di
dalamnya anak mendapati suasana yang agak gelap, sempit, lebih dingin
dan membuat suaranya bergema. Anak pun belum bisa menerka-nerka apa
yang bakal ditemuinya di depan sana, di setiap belokan ataupun di mulut
gorong-gorong. Latihan semacam ini akan meningkatkan kemampuan anak
dalam hal antisipasi. Selain melatihnya mengatasi rasa takut saat
menghadapi suasana berbeda. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi
anak yang ujung-ujungnya akan mengasah kemampuan beradaptasi.

JALA/JARING

Saat manapaki jala/jaring, sensasi ketinggian juga akan didapat anak
sebagai salah satu manfaat. Manfaat lainnya adalah mengasah
ketrampilan motorik, rasa percaya diri, keberanian, maupun
keseimbangan dan koordinasi tubuh.

TUMPANGAN BERGOYANG

Bentuknya bisa bermacam-macam, dari pesawat terbang, tokoh film kartun,
mobil, motor, hewan, atau apa saja. Namun menurut Tari, keinginan
batita mencoba permainan ini lebih karena ketertarikannya pada aneka
bentuk yang ada. Sementara dari segi manfaatnya nyaris tidak ada,
selain sensasi saat mainan bergoyang ke kiri dan kanan atau ke depan
dan belakang secara teratur saat dimasukkan koin.

TIPS MEMILIH ARENA BERMAIN

Guna membantu orang tua memilihkan arena bermain yang baik bagi
anaknya, Tari memberikan beberapa saran berikut:

Utamakan Kebersihan

Jangan pernah memilih arena bermain yang sarananya sudah dipenuhi debu
dan ditumbuhi jamur, lumut, apalagi sampai menimbulkan bau tak sedap.
”Sebagai konsumen, kita berhak bertanya kepada pihak pengelola
mengenai sistem perawatan arena bermain tersebut.”

Tari menyayangkan banyaknya pengelola/pemilik arena bermain, baik
outdoor maupun indoor, yang mengabaikan sisi perawatan dan kebersihan.
Padahal biasanya keteledoran semacam ini yang menjadikan tempat bermain
umum tidak layak lagi dipergunakan bagi anak.

Idealnya, setelah sekian jam digunakan atau dimanfaatkan oleh sejumlah
anak, setiap mainan harus dibersihkan. Bahkan untuk meminimalkan
peluang penularan penyakit tertentu, mainan juga harus dibersihkan
secara berkala menggunakan bahan pembersih yang bisa membunuh jamur,
bakteri, dan kuman.

Perhatikan Keamanan

Pastikan keamanan setiap lekuk dan sudut sarana di tempat bermain yang
akan digunakan dapat diandalkan. Jika kira-kira membahayakan, lebih
baik urungkan saja niat mengajak main batita di tempat tersebut.
Begitu juga materi yang mendominasi arena bermain itu. Amati aspek
lunak-kerasnya, licin atau tidak dan tajam atau tidak semua benda yang
ada. Termasuk aman tidaknya cat yang digunakan.

Mengapa hal-hal kecil tadi perlu diperhatikan baik-baik?
Tak lain karena pengalaman tidak enak kala anak
terbentur atau terluka akan jauh lebih ”dirasa” daripada manfaat
permainan itu sendiri. Sayang sekali ‘kan, kalau karena pernah cedera
anak jadi tak mau mencoba permainan ini-itu atau tidak lagi terangsang
melakukan berbagai eksplorasi hingga potensi/kemampuan anak jadi tidak
terasah.

Kolam mandi bola, contohnya, untuk anak batita idealnya harus
dipisahkan dari kolam serupa untuk anak prasekolah.
Mengapa? Sebagian batita, terutama batita awal usia 1-2 tahun,
masih berada di fase oral. Inilah yang membuat mereka seringkali
memasukkan bola-bola tersebut ke dalam mulutnya.

Pertimbangan lain, perkembangan motorik membuat anak prasekolah
cenderung ”rusuh” dengan melompat dan meloncat atau terjun
bebas tanpa memperhatikan ada atau tidak orang lain yang mungkin bakal
celaka dengan ulahnya. Di sinilah pentingnya orang tua menyeleksi arena
bermain seperti apa yang dianggapnya layak.

Cermati Aspek Kesesuaian

Pilihlah sarana bermain yang merangsang pergerakan otot batita, baik
otot-otot kaki, tangan, maupun seluruh bagian tubuhnya. Jangan lupa
perhatikan juga kesesuaian bentuk, ukuran, dan tingkat kesulitan
masing-masing permainan tersebut. Balok keseimbangan, contohnya,
pilihkan yang baloknya relatif lebar dan goyangannya tidak
menghentak-hentak. Sedangkan untuk perosotan idealnya dilengkapi dengan
matras atau ”bantalan” pasir yang bisa meredam benturan saat anak
mendarat. Lalu untuk permainan gorong-gorong, pilihkan yang jalan
keluarnya langsung bisa ditemukan anak dengan panjang yang terjangkau.

Kuota/Kapasitas

Tinggalkan arena bermain yang sudah penuh sesak. Dalam kondisi semacam
itu jangan harap anak bisa memetik manfaat dari aktivitas bermainnya.
Begitu juga jika melihat antrian yang amat panjang hingga harus
menunggu cukup lama untuk mendapat giliran. Bisa-bisa si batita bete
duluan sebelum bermain. Padahal salah satu unsur penting bagi anak
batita adalah pengalaman yang menyenangkan. Nah, kalau dia sampai
terlalu lama menunggu, kalah berebut kesempatan dengan anak yang lebih
besar, tentu saja permainan tersebut akan menjadi pengalaman tidak
menyenangkan buat si batita. Meski di usia ini anak juga harus mulai
diperkenalkan pada konsep berbagi, tapi tentu bukan dengan cara-cara
seperti ini.

Kualitas SDM

Yang dimaksudkan di sini adalah kualitas petugas atau kakak-kakak
pendamping yang ada di lokasi arena bermain. Ini sangat perlu mengingat
mereka harus menjaga, membimbing, dan mengarahkan anak bagaimana
harusnya bermain dengan baik dan benar. Jika semua aturan main bisa
dipatuhi, bukan cuma keselamatan dan kenyamanan bermain yang didapat
anak, tapi juga manfaat lain. Semisal, ”O…begini toh caranya menjaga
keseimbangan di jalan yang licin.”
Atau, ”Supaya bonekanya enggak gampang hancur, aku mesti mencampur
tepung ini dengan air.”

Tentu saja agar bisa memainkan perannya sebagai pendamping, jumlah SDM
yang bertugas harus sesuai dengan kapasitas arena permainan itu sendiri.
Jangan sampai satu penjaga harus mengawasi 10 anak yang sedang asyik
bermain, contohnya.